Kunjungan Tamu dari Negara Asia Pasifik Dalam Rangka Study Tour RIL dan SFM Print
Written by SBK   
Wednesday, 26 December 2012 09:28

Sebagai salah satu perusahaan yang telah menerapkan metode Reduced Impact Logging (RIL) dan Sustainable Forest Management (SFM), PT. Sari Bumi Kusuma - Kalimantan Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu dari dalam maupun luar negeri. Tak terkecuali bagi tamu-tamu dari Negara-negara Asia Pasifik yang berkunjung pada tanggal 27 - 30 Nopember 2012 lalu.  Agenda kunjungan yang bertujuan untuk melihat langsung penerapan RIL dan SFM tersebut, difasilitasi oleh TFF (Tropical Forest Foundation) dan GIZ (Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), diikuti oleh sebanyak lima belas orang dari instansi kehutanan, akademisi serta karyawan swasta yang berasal dari Papua Nugini, Fiji, Vanuatu dan Solomon.

Pada kesempatan hari pertama, pihak perusahaan menjelaskan garis besar kegiatan pengelolaan hutan yang telah dilaksanakan selama kurang lebih tiga puluh tahun. Selain itu, kontribusi keberadaan perusahaan terhadap pemerintah, masyarakat, karyawan dan kelangsungan sumberdaya hutan juga dipaparkan.

Acara semakin menarik pada saat forum tanya jawab. Sebagian besar peserta aktif bertanya dan hampir semua tamu mengangkat jari meminta penjelasan lebih detail mengenai materi presentasi yang telah disampaikan, terutama yang terkait dengan konstribusi perusahaan terhadap masyarakat. Terkait dengan hal itu, pihak perusahaan menjelaskan bahwa konstribusi perusahaan terhadap masyarakat yang berada di dalam dan sekitar areal kerja diberikan melalui kegiatan PMDH (Pembinaan Masyarakat Desa Hutan) yang telah dijalankan sejak tahun 1983 dengan berbagai program yang diharapkan mampu mendorong perkembangan kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Selesai acara tanya jawab, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa obyek menarik di sekitar Base Camp km 35, diantaranya adalah rumah adat, rumah pohon, proses pengolahan air mineral, fasilitas pendidikan dan olahraga serta bengkel.

Kunjungan pada hari kedua dan ketiga dijadualkan melihat berbagai kegiatan operasional pengelolaan hutan di lapangan. Kunjungan pada hari kedua, para tamu diajak untuk melihat langsung penerapan teknik RIL dalam kegiatan pemanenan kayu di PT. SBK. Rangkaian penerapan RIL yang dimulai dari penjelasan mengenai peta kerja hasil Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITSP), teknik penebangan, penyaradan, dan Penatausahaan Hasil Hutan (PUHH) diikuti secara seksama oleh semua tamu. kemudian, kunjungan dilanjutkan ke lokasi pengadaan bibit (persemaian),  lokasi uji progeny, dan lokasi penanaman (logged over area) dari berbagai tingkatan umur.

Pada hari ketiga para tamu diajak mengunjungi areal tanaman jalur yang ditanam pada tahun 1999 dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ). Di lokasi ini, para tamu melihat bagaimana kondisi tanaman meranti yang tumbuh subur dan telah mencapai rata-rata diameter sekitar 30 cm dengan kondisi areal bekas tebangan di sekitarnya yang dikelola dengan baik dan terjaga kelestariannya. Seperti halnya tamu-tamu lain yang berkunjung, para peserta studi tur juga diminta untuk menanam tanaman kenangan sebagai simbol persahabatan dan komitmen terhadap kelestarian sumberdaya hutan.

Ada satu hal menarik yang disampaikan oleh Karl P. Kirsch Jung, Penasihat Senior dan Direktur Program Regional Asia Pasifik dari GIZ. Pada awalnya, muncul ketidakpercayaan yang disampaikan oleh rekan-rekannya tentang kegiatan SFM. Namun, setelah berkunjung dan melihat secara langsung pengelolaan hutan di PT. SBK, dia mendapatkan sudut pandang dan wawasan yang berbeda mengenai pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Peserta lain dari Papua Nugini yang berprofesi akademisi, juga sangat terkesan dan bahkan menyatakan akan mengirim para mahasiswa dan pengajar untuk belajar di PT. SBK.

Terkadang, informasi yang diterima mereka selama ini tentang pengelolaan hutan tropis di Indonesia tidak proporsional. Lebih banyak informasi bernada miring yang disampaikan oleh media cetak maupun elektronik. Informasi yang kurang berimbang tersebut akan membentuk opini serta persepsi yang jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan. Namun setelah melihat langsung dan membuktikan sendiri, kenyataannya sungguh berbeda, seeing is believing. Justru kesan positif dan keseriusan pengelolaan hutan alam tropis yang mereka dapatkan. (by:yudhihendros)


Last Updated on Wednesday, 26 December 2012 09:49